OPTIMISME DAN HARAPAN
Oleh : Zamahsari Abdul Azis, S.Pd.I., M.Si
Kisah tentang seorang pemuda ahli maksiat. Selama hidupnya ia berperilaku sangat buruk. Hampir semua jenis maksiat ia jalani, sehingga ia di benci oleh lingkungan sekitarnya. Saking buruk amalnya, bahkan ketika ia jatuh sakit selama tiga hari yang mengantarkannya pada maut, tidak ada seorang pun yang mau mengabarkan atas kematiannya. Akhirnya proses pemakaman hanya dilakukan oleh 4 orang , itu pun orang yang disewa ibunya.
Ketika jenazah disinggahkan di masjid untuk disholati, para penggali kubur berebut untuk tidak mau mensholati jenazah pemuda ahli maksiat itu. Ternyata perdebatan empat orang itu diamati oleh Syekh Abn bin 'Iyasy yang kebetulan sedang i' tikaf di masjid tersebut. Melihat perdebatan itu, beliau berkenan menjadi imam, oleh karena beliau ikut mensholati jenazah, berarti Syekh Abn bin 'Iyasy menjadi orang ke lima yang terlibat dalam proses pemakaman jenazah.
Syekh Abn bin 'Iyasy mengikuti proses pemakaman, hingga akhirnya beliau menemukan kejanggalan. Saat di akhir pemakaman, ibu dari anak ini tertawa bahagia seraya mengucap hamdalah ketika beranjak dari pemakaman. Tentu hal ini menarik perhatian Syekh. Bagaimana bisa orang tua dengan kematian dan pemulasaraan anaknya yang demikian ini bisa menumbuhkan kebahagiaan. Kemudian beliau memberanikan diri bertanya kepada ibu tersebut. Sang ibu dengan senang hati menceritakan latar belakang kehidupan anaknya dan beberapa wasiat yang ia tinggalkan, di antaranya :
1. Bila ia mati untuk tidak mengabarkan kematian nya kepada tetangga, karena pasti tidak ada yang mau takziah dan bisa jadi tetangga justru bahagia atas kematiannya.
2. Ibu, mohon ukirlah lafadz لاإله إلاالله واشهد أن محمد الرسول الله di cincinku ini, kemudian sertakan dalam kafanku, barangkali aku bisa mendapatkan rohmat Allah SWT sebab hal ini.
3. Ibu, setelah aku mati, mohon engkau menaruh kakimu di pipi ku dan ucapkan:
هذا جزاء من عصى الله
"iki minongko walese wong kang durhoko marang gusti Allah".
4. Setelah nanti sekira cukup proses pemakaman, mohon angkat kedua tangan mu dan mohonkan ampun kepada allah SWT, serta ucapkan doa:
انى رضيت عنه فارض عنه
"Duh gusti kulo sampon lilo dateng anak kulo niki, pramilo kulo nyuwun palilah panjenenengan kagem anak kulo".
Maka ketika aku mengangkat tangan ku, aku mendengar suara anak ku dengan sangat jelas,
انصرفي يا أماه، فقد قدمت على ربي كريم رحيم، غير غضبان على
"Buk sakwatawis sampon cekap, panjenenengan saget miyos, kulo sampon sowan dateng ngarso dalem Allah SWT, alhamdulillah Allah boten duko marang kawulo".
Sebab ini lah aku tertawa bahagia, ujar sang ibu merespon pertanyaan sang syekh.
Rupanya pemuda tersebut mendapatkan happy ending/atau husnul khotimah, bila kita cermati ada dua hal yang menarik, pertama Ridlo ibu, kedua adalah rasa bersalah, rasa rendah diri di hadapan Allah dan selalu butuh atas rahmat Nya.
معصية أورثت ذلا وفتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا
"Dosa sing marisne roso ino ning ngersane Alloh Kui luih apik tinimbamg tho'at sing marisne roso sombong neng atine abdu".
Cerita di atas di tulis oleh Imam Ibnu Abbad ketika mengurai dawuh dari kitab hikam :
ربما فتح لك باب الطاعة وما فتح لك باب القبول وربما قضى عليك بالذنب فكان سبباً فى الوصول
"Terkadang Allah membukakan pintu ta'at untuk kita, namun secara bersamaan allah menutup pintu diterimanya amal kita, terkadang Allah menetapakan kita di jalan maksiat namun justru itu mengantarkan kita wushul/sampai kepada allah "
Hikmah di atas mengajarkan kepada kita bahwa dalam menjalani kehidupan, hendaknya kita sedang sedang saja, jangan terlampau optimis dan jangan pula terjebak dalam sikap pesimis. Sikap terlampau optimis akan menjerumuskan kita pada kesombongan, sikap pesimis yang berlebihan akan membawa kita pada putus harapan.
Sikap seperti inilah yang membentuk karakter leluhur kita, bahwa dalam mensikapi segala sesuatu tidak perlu berlebihan, selalu Tawasuth, Tawazun dan I'tidal. Tawasuth, adalah sikap tengah – tengah atau sedang di antara dua sikap, tidak terlalu keras (fundamentalis) dan terlalu bebas (liberalis), dengan sikap inilah dakwah Islam bisa di terima di segala lapisan masyarakat. Buah dari ketiganya leluhur kita selalu memiliki sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Hal ini selaras dengan dawuh Imam Ibnu Abbad,
فصوار الطاعة لا تقتضي وجود القبول لها
ووجود صوار الذنب الا تقتضي الإبعاد والطرد
بل ربما يكون ذالك سببا فى وصوله إلى ربه
"Bahwa tidak setiap keta'atan kepada Allah selalu diterima di sisi Nya, sebagaimana tidak setiap dosa menjadikan hamba terusir dari rahmat dan welas asih-Nya"
Di akhir bulan Rajab ini, marilah kita bersama lebih meningkatkan muhasabah, introspeksi atas diri kita, dengan tidak merasa menjadi yang paling unggul di hadapan allah SWT, apalagi merasa diri lebih baik sebab amal kita.
أقول قولي هذا وأستغفرالله العظيم لي ولكم

Subhanalloh... Luar biasa. Sembahnuwun Kyai ilmunipun
BalasHapusInggeh, dumawah sami sami, semoga iatiqomah
HapusBermanfaat
BalasHapusTerima kasih prof, pangestunipun
HapusTidak pernah putus asa dari rahmat Allah
BalasHapusBetul, selalu optimis
BalasHapus