Ulama

DOC : Penulis bersama Sayyid Muhammad Alwi Al Hasni, DIY

Oleh : Zamahsari Abdul Azis, S.Pd.I, M.Si

    Bahasanya jauh dari kesan menggurui, Sayyid Muhammad memulai nya dengan cerita ketika mondok di Lirboyo, Bersama KH. Anwar Iskandar (Kediri) beliau mendapatkan tugas dari KH. Makhrus Aly, yang waktu itu mengemban amanah menjadi Rois Syuriah PWNU JAWA TIMUR, beliau di tugas kan untuk mendata seluruh pondok pesantren yang ada di Jawa Timur bahkan sampai ke wilayah Negara, Bali.

    Ketika sampai di pondok KH. As'ad Syamsul Arifin, Sukorejo, Situbondo, beliau mendapatkan perlakuan yang istimewa, tidak di perkenankan pulang, harus menginap di Sukorejo, bahkan ketika pulang di beri uang saku segebok, yang jumlahnya berlipat dari uang saku yang di dapat dari Kyai Makhrus. Semalam suntuk Kyai As'ad menemani nya, berbincang dan bernostalgia ketika masa masa nyantri di pondok Termas, hal inilah yang menjadikan Sayyid Muhammad menjadi tamu istimewa bagi Kyai As'ad, karena Sayyid Muhammad merupakan cucu salah satu pengasuh pondok termas Pacitan. Proses kiai As'ad mondok di Termas juga terbilang unik, seminggu sebelum pernikahan Kyai As'ad, beliau di rawuhi mbah Hasyim As'ari, beliau memerintahkan Kai As'ad muda untuk mondok ke Termas, Kyai As'ad kebingungan, bagaimana melaksanakan perintah mbah Hasyim yang memang setengah memaksa ini, Jalan tengah di ambil, pernikahan tetap berjalan, perintah mondok juga di laksanakan.

    Setelah proses akad nikah selesai, Kyai As'ad langsung berangkat mondok, tidak ada istilah pengantin baru dan sejenisnya, melainkan langsung berangkat mondok ke Termas, Pacitan, selama 3 tahun. Sesampai di Pondok Termas Kyai As'ad muda sowan Kepada Pengasuh Pondok, Kyai Dimyati, ketika sowan minta izin untuk ikut mondok, Kyai As'ad malah langsung di baiat oleh Kyai Dim, kamu saya anggap santri asal mau menerima baiat ku, Kyai As'ad muda belum paham apa isi baiat nya, namun karena perintah sang guru, beliau menerima Baiat dari Kyai Dim, isinya baiat, "sampean tak baiat, ora oleh nolak yen di jaluki warah", (kamu saya baiat untuk tidak menolak bila di mintai tolong mengajar), Kyai As'ad muda menyanggupi baiat tersebut namun minta kelonggaran waktu 3 bulan, karena ternyata beliau di minta mengajar kitab Jam'ul jawamik, yang beliau belum pernah punya kitab nya apalagi mempelajari nya, waktu 3 bulan di gunakan untuk belajar keras, di cari nya guru yang mau mengajari nya, di pilih nya kiai Masduki, Lasem (waktu itu juga nyantri di pondok Termas) untuk jadi guru privat nya, gayung pun bersambut, kiai masduki menyanggupi permintaan Kyai As'ad muda, waktu yang di sediakan sebelum subuh, "aku gelem mulang awakmu nanging wektu ne sak durunge subuh" , demikian dawuh kyai Masduki. 

    Sebuah waktu yang istimewa, sekaligus sangat berat bagi orang yang tidak memiliki tekat kuat. Dalam proses pembelajaran itu Kyai As'ad membaca 40 kali dalam setiap bab yang di pelajari, sehingga dalam waktu 3 bulan dapat menyelesaikan kitab tersebut, sekaligus setengah hafal redaksi kitab Jamul jawamik tersebut. Setelah proses belajar privat selama 3 bulan di jalani, Kiai As'ad baru berani mulang atau mengajar, melaksanakan dawuh sekaligus baiat dari Kyai Dimyati.  Kepada Sayyid Muhammad, Kyai As'ad memberikan kesaksian "seandainya saya tidak mondok di termas tentu saya tidak bisa ngaji" , karena setelah bisa menguasai kitab Jamul Jawamik, kitab apapun seperti mudah di baca dan di kuasai.  Sayyid Muhammad mengakhiri cerita dengan memberikan motivasi, dalam bidang apapun yang di geluti harus fokus, jangan mudah goyah dengan godaan.  

    Alhamdulillah tsumma alhamdulillah, Sedemikian besar fadilah atau keutamaan silaturahmi dan duduk bersama para alim, 

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ

    Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mengunjungi orang alim, maka seolah-olah ia mengunjungiku. Barang siapa berjabat tangan dengan orang alim, maka seolah-olah ia berjabat tangan denganku. Barang siapa duduk berdampingan dengan orang alim, maka seolah-olah ia duduk berdampingan dengan denganku di dunia. Barang siapa duduk berdampingan denganku di dunia, maka ia akan duduk berdampingan denganku di hari kiamat.”

    Semoga  Allah memilih kita untuk bersama mereka didunia dan mengikut jejak mereka ke syurga di akhirat kelak" amin. Alfatihah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manungso, kolomonggo, semut lan tawon

OPTIMISME DAN HARAPAN