TAKDIR
Oleh : Zamahsari Abdul Azis
Kata takdir terambil dari kata Qaddara berasal dari akar kata Qadara yang antara lain berarti mengukur memberi kadar atau ukuran sehingga jika kita berkata Allah telah menakdirkan sesuatu maka ini berarti seolah kita berkata Allah telah memberi kadar atau ukuran atau batas tertentu dalam diri atau sifat dan kemampuan makhluk-Nya
Dari sekian banyak ayat Alquran dapat dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah
سبح اسم ربك الذي أعلى، الذى خلق فسوى، والذى قدر فهدى
Seluruh Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini dari sisi kejadiannya dalam kadar atau ukuran nya pada tempat dan waktu tertentu, itulah yang disebut dengan takdir, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdir termasuk manusia, peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Allah yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah atau yang sering secara Salah kaprah disebut hukum-hukum alam.
Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya, makhluk ini misalnya tidak dapat terbang, ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, di sisi lain manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan tidak terlepas dari hukum-hukum yang telah mempunyai kadar dan ukuran tertentu tersebut.
Hukum-hukum tersebut cukup banyak dan kita diberi kemampuan untuk memilih maka kita dapat memilih yang mana Di antara takdir yang ditetapkan Tuhan terhadap alam yang kita pilih, api ditetapkan Tuhan memiliki sifat yang panas dan membakar, angin ditetapkan Tuhan menimbulkan sifat kesejukan atau dingin, manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya Ilham atau petunjuk Ilahi sehingga Rasulullah selalu mengajarkan doa:
للهم لاتكلني إلى نفسي طرفة عيني
"Ya Allah ya Allah jangan engkau biarkan aku sendiri dengan pertimbangan nafsu akal ku saja thorfata Aini walau dalam sekejap"
Pada suatu waktu Khalifah Umar Bin Khattab hendak melaksanakan kunjungan ke sebuah daerah, tersiar kabar pada daerah yang akan dikunjungi sedang terkena wabah penyakit, atas informasi tersebut sahabat Umar membatalkan kunjungannya, sehingga muncul pertanyaan
اتفر من قدرةالله
"wahai Khalifah Umar Apakah engkau lari atau menghindar dari takdir Allah"
lalu sahabat Umar memberikan jawaban
افر من قدرةالله إلى قدرةالله
"Saya lari atau menghindar dari takdir Tuhan yang satu kepada takdir Tuhan yang lain"
Demikian juga ketika Imam Ali radhiallahu an sedang duduk bersandar di satu tembok yang rapuh beliau pindah ke tempat yang lain beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan kepada Umar Bin Khattab, dan jawaban Ali Bin Abi Thalib sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar Bin Khattab.
Dari kedua contoh di atas, yakni Robohnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya, akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, Tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun juga takdir. Jika demikian manusia tidak dapat luput dari takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Sungguh tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut takdir karena yang positif yang menguntungkan juga disebut takdir, dengan demikian menjadi jelas kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri sambil memohon bantuan Ilahi
Ada sifat buruk yang sering kita tidak sadari yaitu bila ada malapetaka atau sesuatu yang tidak menyenangkan dengan cepat kita melemparkan penyebabnya kepada takdir begitu juga sebaliknya kita melupakan kata ini pada saat kita meraih kesuksesan atau dalam keadaan normal sikap ini Tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk Alquran karena allah telah menggariskan
قد جعل الله لكل شئ قدر
" Allah telah menetapkan segala sesuatu takdir nya"
Hari ini kita menyaksikan di beberapa daerah di wilayah negara kita di landa banjir, air seolah mendatangi pemukiman manusia dengan Tanpa kira-kira, mendatangi perkampungan manusia seolah tanpa bisa dikendalikan, melihat fenomena hari ini kita tidak bisa serta-merta menyalahkan takdir karena Sebelumnya kita telah mengabaikan takdir yang lain, air sesuai dengan sunnatullah pasti mengalir dari dataran tinggi menuju dataran yang lebih rendah, maka apabila hutan yang ada di pegunungan yang berfungsi menahan laju air, telah habis dimakan oleh manusia maka sesuai dengan sunnatullah air tidak ada yang menahan nya untuk menuju tempat yang lebih rendah
Hari ini kita menyaksikan banyak sekali berita di berbagai media, ular ular yang berkeliaran di dalam rumah warga, mengapa ia sampai berkeliaran pada tempat hidup manusia, hal ini karena tempat hidup ular telah dirusak oleh manusia, namun yang lebih penting daripada itu ada mata rantai yang terputus dalam siklus kehidupan hewan, ada hewan yang di ciptakan oleh allah menjadi predator ular kobra saat ini diburu untuk dimakan oleh manusia, Apakah hewan itu?? tidak lain adalah musang, garangan, biawak, juga burung elang.
Demikian juga tikus, dapat kita saksikan betapa tikus cukup merepotkan kita manusia Mengapa tikus bisa overpopulasi karena hewan yang bertugas untuk menjaga keseimbangan jumlah tikus telah mati ditembak oleh manusia, hewan apakah itu?? Di antaranya adalah burung hantu, yang saat ini sudah sangat jarang kita jumpai ada di sekeliling kita. Maka ketika kita memutus dan mengubah apa yang telah di susun dan di rangkai oleh allah sedemikian teliti dan rinci, maka kita harus bersiap untuk menerima konsekuensi nya
Untuk itu di awal tahun 2020 ini marilah kita bermuhasabah diri berintrospeksi diri marilah kita bersama untuk ikut menjaga takdir takdir Allah terhadap alam semesta ini bila kita tidak ikut menjaganya maka kita pula yang akan menuai konsekuensinya hal ini sesuai dengan ayat Alquran chord ja'alallahu likulli syai'in Qadir hadirin jamaah jumah rahimakumullah demikian kiranya khutbah Jumat pada sekalian hari ini semoga bermanfaat bagi kita semua.
Komentar
Posting Komentar