Al-Qur’an dan Pandemi
Oleh : Zamahsari Abdul Azis, S.Pd.I.,M.Si
Ketika Kholifah Harun Ar-Rosyid
berselisih paham dengan Imam Syafi'i, dalam puncak kemarahannya Kholifah
menyiapkan hukuman untuk sang Imam. Segala piranti untuk menghukum sudah
disiapkan. Sang Kholifah mengintruksikan kepada Fadol bin Robi', untuk mendatangkan
sang imam ke hadapannya, dalam hati Fadol bin Robi', ia mengucap Innalilahi
wainna ilaihi rojiun, sebab kecintaanya kepada sang Imam. Ketika Fadol
mendampingi Imam Syafi'i menghadap Kholifah, ia mengamati sang Imam,
Ketika sampai di lobi pertama beliau
menggerakkan kedua bibirnya, begitu pula ketika sampai di lobi ke dua dari
istana, sang imam juga menggerakkan bibirnya merapal doa. Saat sudah sampai di
ruang utama dan berhadapan langsung dengan Kholifah, semua orang terdekat Kholifah
mengamati dengan seksama. Ada apa gerangan yang akan dilakukan Kholifah
terhadap sang Imam. Kholifah terlibat pembicaraan yang serius dengan sang Imam
selama beberapa waktu, hingga akhirnya suasana berubah menjadi happy ending.
Kholifah memanggil Abu Fadol seraya
memberikan intruksi untuk menyiapkan hadiah yang layak untuk sang Imam. Pada
awalnya beliau menolak hadiah itu, namun Abu Fadol memberikan kode keras kepada
sang Imam untuk berkenan menerimanya. Sang Imam berkenan menerima namun
membagikan semua hadiah tersebut kepada setiap orang di sepanjang perjalanan
kembali ke rumah.
Karena penasaran, Abu fadol pun
bertanya kepada imam, tentang doa yang dibaca ketika akan menghadap Kholifah. Dengan
senang hati sang imam mengajarkan doa kepadanya. Rupanya sebagai kepala
protokol istana, doa ini sangat bermanfaat bagi Abu Fadol. Setiap kali sang
Kholifah menampakkan roman muka marah kepadanya, ia segera membaca doa yang
diajarkan Imam Syafi'i. Seketika itu pula, reda kemarahan sang Kholifah.
Sehingga Abu Fadol bersaksi,
فهذا ما أدركت
من بركة الشافعي
"ini merupakan salah satu keberkahan yang aku peroleh dari
Imam Syafi'i."
Di antara doa yang dibaca oleh sang
Imam adalah ayat alquran yang juga dibaca Nabi ketika yaumul ahzab, hari dimana umat muslim Madinah di embargo oleh yahudi Madinah dan kafir qurasy. surat Ali
Imron 18-19.
(شَهِدَ
ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَأُو۟لُوا۟
ٱلۡعِلۡمِ قَاۤىِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِیزُ
ٱلۡحَكِیمُ * إِنَّ ٱلدِّینَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُۗ
***
Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran, Di titik inilah agama dan ilmu pengetahuan bertemu. Bagaimana seorang Imam Syafi'i yang secara psikologis berada di bawah tekanan tetap mampu tenang dan dapat mengendalikan situasi. Di lain sisi, bagaimana seorang Harun ar Rasyid yang sudah sampai pada puncak kemarahan secara drastis dapat menurun akumulasi kemarahannya. Hal ini di antaranya adalah keberkahan dari Al-Qur’an, karena dalam setiap huruf Al-Qur’an terdapat sirr yang memancar. Dalam setiap lafadz Al-Qur’an terdapat energi yang menyebar. Pancaran dan sebaran energi inilah yang memicu metabolisme tubuh untuk mengeluarkan hormon endorfin, yakni hormon yang menimbulkan sensasi tenang dan tenteram.
Saat ini dapat kita lihat bersama
bahwa ada sebagian kelompok masyarakat yang mengalami kepanikan yang luar
biasa. Dapat kita lihat bersama, perilaku menimbun obat, menimbun oksigen, demi
keuntungan di atas penderitaan orang lain. Bahkan banyak yang mengalami panic
buying, dimana orang membeli sesuatu tidak berdasarkan kebutuhan, namun
lebih karena propaganda terhadap produk-produk tertentu. Seolah produk tersebut
adalah satu-satunya barang yang dapat menyelamatkan dari wabah.
Salah satu teori kesehatan yang
sangat terkenal baik di Barat maupun di Timur adalah bahwa sakit tidak melulu
disebakan oleh lemahnya fisik, tetapi bisa juga disebabkan oleh kondisi
kejiwaan yang lemah. Teori ini dikemukakan oleh seorang ulama terkenal
sekaligus seorang ahli di bidang kedokteran kelahiran Bukhara Uzbekistan tahun
980 M. Tokoh itu bernama Abu ʿAli al-Ḥusayn ibn ʿAbdillah ibn Sina atau lebih
dikenal dengan Ibnu Sina dengan digelari Bapak Kedokteran. Di dunia Barat
beliau dikenal dengan nama Avicenna.
Dalam kaitan ini Ibnu Sina
mengatakan;
الوهم نصف الداء
(Kepanikan adalah separuh penyakit)
والاطمئنان نصف
الدواء
(Ketenangan adalah separuh obat)
HADIRIN PEMBACA YANG DIRAHMATI ALLAH SWT
Di tengah situasi yang demikian ini,
hampir saja luput dari perhatian kita dan juga pemangku kebijakan, bahwa ada
aspek lain di luar jasmani yang juga harus diperhatikan, harus di bangun, dan
di utamakan, yakni aspek rohani. Untuk itu di saat obat atas pandemi ini belum
ditemukan, marilah kita bersama membangun ketahanan jiwa dan raga kita. Bersama
kita bangun ketahanan jasmani dengan kecukupan nutrisi dan kita bangun
ketahanan rohani dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Karena dalam setiap
huruf Al-Qur’an terdapat sirr yang memancar, dalam setiap lafadz Al-Qur’an
terdapat energi yang menyebar. Pancaran dan sebaran energi inilah yang mampu
membangun ketahanan tubuh atau imunitas kita.
Komentar
Posting Komentar